PENGARUH PENGGUNAAN CARRIER PADA PENYIMPANAN EKSTRAK PADAT LIMBAH SAYUR FERMENTASI TERHADAP KANDUNGAN TOTAL BAKTERI DAN TOTAL FUNGI
Abstract
Ekstrak padat limbah sayur fermentasi (EPLSF) memiliki potensi yang baik sebagai probiotik, karena mengandung bakteri asam laktat. EPLSF yang dikombinasikan dengan bawang putih dapat bermanfaat sebagai bahan pakan fungsional. Untuk menjaga kualitas bahan pakan aditif fungsional selama penyimpanan, carrier diperlukan, diantaranya adalah onggok dan bungkil kedelai. Untuk alasan ini, perlu untuk mengkaji pengaruh onggok dan bungkil kedelai sebagai bahan carrier terhadap kualitas EPLSF pada penyimpanan 4 minggu. Percobaan dilakukan dengan Rancangan Acak Kelompok pola faktorial. Faktor-faktor tersebut adalah macam ekstrak, yaitu: (EPLSF-1 dan EPLSF-2), dan jenis carrier, yaitu: T0 (tanpa pemberian carrier); T1 (carrier onggok); T2 (carrier bungkil kedelai); T3 (carrier onggok + bungkil kedelai perbandingan 7 : 4); T4 (carrier onggok dan bungkil kedelai perbandingan 4 : 7), dengan masing-masing 3 ulangan. Data dianalisis secara statistik dengan ANOVA. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode pemberian macam carrier tidak memberikan pengaruh yang signifikan (P<0,05) terhadap kandungan total bakteri dan total fungi. Namun, kandungan bawang putih yang berbeda pada EPLSF memberikan pengaruh signifikan (P>0,05) terhadap total bakteri. Rata – rata kandungan total bakteri pada EPLSF adalah 1,1 × 104 CFU/g dan cemaran total fungi 2,75 × 103 CFU/g. Disimpulkan, bahwa onggok maupun bungkil kedelai layak digunakan sebagai carrier pada penyimpanan EPLSF baik dalam bentuk tunggal maupun campuran.